Setelah menyaksikan pertunjukan orkestra asli luar negeri di salah satu stasiun televisi Indonesia, (mari sebut saja stasiun TVnya, yaitu MetroTV), saya semakin tertarik terhadap orkestra. Sejak saya masih duduk di bangku SMP, saya sudah menyukai genre musik klasik. Semua ini berawal dari kekepoan saya menguping lagu-lagu yang diputar oleh kakak saya karena kamar yang masih bersebelahan sengan kamar kakak pada waktu itu. Kala itu... saya sedang memilah-milih baju yang hendak disetrika sambil membersihkan kamar (itu karena saya multitasker), lalu terdengar alunan piano dan biola dari kamar sebelah. Saya pun terdiam cukup lama. Lagu apa ini?
Tidak terdengar vokal manusia bernyanyi solo, tapi kenapa saya merasa sudut hati tersensitif saya tersentuh lewat lagu itu *deuila. Saya masih ingat, kelima lagu itu sering diputar oleh kakak saya hampir setiap pagi. Lama-kelamaan, saya berniat untuk meminta soft copy lagu itu lewat belakang, tanpa pemberitahuan pada kakak saya terlebih dahulu. Setelah saya searching di komputer, fualaaa...! Ternyata kelima lagu itu dibawakan oleh Secret Garden, grup musik yang terdiri dari dua pemain, yang pertama sebagai composer/pianis berasal dari Norwegia, dan yang kedua sebagai violinist berasal dari Irlandia. Judul-judulnya antara lain Song from Secret Garden, Silent Wings, Passacaglia, Ode to simpli, dan Adagio. Dan sejak saat itulah saya menemui soulmate kesekian saya, musik klasik.
Lalu apa hubungannya dengan orkestra? Dari tahun ke tahun saya hidup dengan menyukai musik klasik yang merambat ke segala arah bagai air. Hingga pada akhirnya, tahun 2011 saya mendapatkan bejibun lagu klasik dari guru PPL TIK yang bernama Bu Vina yang secara kebetulan menyukai musik instrumental seperti saya. Ada classic piano, classic guitar, dan juga orkestra-orkestraan.
Nah dari situlah start line menyukai orkestra.
Hingga sekarang, tahun 2013, akhirnya saya menyaksikan pertunjukan orkestra asli (walaupun lewat televisi) dari grup Wiener Philharmoniker yang dipimpin oleh Franz Welser-Most. Konsernya berjudul Neujahrskonzert. MC yang dipilih oleh MetroTV adalah Addie Ms, salah satu musisi terkenal di Indonesia. Jika saya tidak salah, pertunjukannya digelar di Italia. Kalau salah ya mohon dimaafkan, karena setelah saya mencoba searching, blog asli dari Wiener Philharmoniker menggunakan bahasa yang tidak saya pahami. Untuk melihat rincian lagu apa saja yang dibawakan, boleh tengok ke blognya langsung:
http://www.wienerphilharmoniker.at KLIK!
Lain waktu, saya akan bahas apa itu orkestra dan nama-nama orkestra terkenal selain Wiener Philharmoniker di pelosok dunia.
Gracias ^^/
Melangkah hingga menuju tak terdefinisi ~ dan mencoba memaknai hidup untuk menuju hal fana yang diindahkan oleh-Nya.
Sabtu, 05 Januari 2013
Ayam Kampung
Tadi malam, sekitar pukul 19.00 WIB, saya sampai di rumah dalam keadaan basah kecebur got, karena terkena hujan gerimis sepulang dari tempat les. Alhasil setelah sampai di rumah, tas saya simpan di sofa dan melesat ke arah dapur karena rasa lapar yang tak tertahankan (tolong garis bawahi bahwa saya suka sekali makan).
Saya menengok ke dapur dan mendapati masakan ayam. Saya sudah mencurigai bahwa itu adalah Bukan Ayam Biasa, kalau disingkat menjadi BAB, yang ketenaran sudah menyaingi artis BBB, Bukan Bintang Biasa. Kecurigaan saya pun terbukti setelah saya mencoba satu gigitan pertama pada bagian paha si ayam, Krrrt..! Dengan ganasnya saya menggigit, namun nihil, daging yang terambil hanya sebagian kecil karena tekstur ayam yang alot.
Sial, ini ayam kampung!
Sekarang tidak usah digaris bawahi, tapi cukup di bold saja. Saya tidak suka ayam kampung,
karena sifat dagingnya yang liat dan alot. Kalau orang luar negeri atau orang pandir yang tidak tau apa-apa mengenai keberadaan si Ayam Kampung, tatkala mencoba masakannya dagingnya, pasti berkata bahwa daging ayam yang mereka makan menggunakan formalin dicampur boraks sebanyak 1 liter lebih 37,5 milimeter kubik. Kasihan ya si Ayam Kampung, padahal kandungan gizinya lebih besar dari ayam kota, lebih berkualitas, dan.... dan..... ya... intinya lebih alot!
Tapi ada dua tips pribadi dari saya bila Anda hendak membedakan ayam kampung dan ayam berformalin. Perbedaannya terletak pada tulangnya. Untuk memastikannya, hal pertama yang dapat dilakukan adalah habiskan daging-daging yang menempel pada tulang ayam, lalu ketuk tulang ayamnya. Jika tulang sangat kokoh dan sulit digigit, itu asli ayam kampung. Tapi kalau tulang ayamnya keropos seperti terkena penyakit osteoporosis, maka Anda telah memakan ayam berformalin >:) yang kedua, Anda sajikan tulang-tulang tadi pada kucing peliharaan Anda. Bila tidak dimakan atau sudah termakan dan berujung pada kerusakan gigi pada kucing Anda, itu asli 100% ayam kampung. Tapi kalau tetap dilahap, siap-siap saja Anda mengalami phobia makan ayam kampung.
Persuasi dari saya adalah, mari berhati-hati dalam mengkonsumsi ayam kampung dan jangan sekali-sekali memilih ayam kampung yang belum teruji kekampungannya! >:D hahaha
Gracias ;-)
Saya menengok ke dapur dan mendapati masakan ayam. Saya sudah mencurigai bahwa itu adalah Bukan Ayam Biasa, kalau disingkat menjadi BAB, yang ketenaran sudah menyaingi artis BBB, Bukan Bintang Biasa. Kecurigaan saya pun terbukti setelah saya mencoba satu gigitan pertama pada bagian paha si ayam, Krrrt..! Dengan ganasnya saya menggigit, namun nihil, daging yang terambil hanya sebagian kecil karena tekstur ayam yang alot.
Sial, ini ayam kampung!
Sekarang tidak usah digaris bawahi, tapi cukup di bold saja. Saya tidak suka ayam kampung,
karena sifat dagingnya yang liat dan alot. Kalau orang luar negeri atau orang pandir yang tidak tau apa-apa mengenai keberadaan si Ayam Kampung, tatkala mencoba masakannya dagingnya, pasti berkata bahwa daging ayam yang mereka makan menggunakan formalin dicampur boraks sebanyak 1 liter lebih 37,5 milimeter kubik. Kasihan ya si Ayam Kampung, padahal kandungan gizinya lebih besar dari ayam kota, lebih berkualitas, dan.... dan..... ya... intinya lebih alot!
Tapi ada dua tips pribadi dari saya bila Anda hendak membedakan ayam kampung dan ayam berformalin. Perbedaannya terletak pada tulangnya. Untuk memastikannya, hal pertama yang dapat dilakukan adalah habiskan daging-daging yang menempel pada tulang ayam, lalu ketuk tulang ayamnya. Jika tulang sangat kokoh dan sulit digigit, itu asli ayam kampung. Tapi kalau tulang ayamnya keropos seperti terkena penyakit osteoporosis, maka Anda telah memakan ayam berformalin >:) yang kedua, Anda sajikan tulang-tulang tadi pada kucing peliharaan Anda. Bila tidak dimakan atau sudah termakan dan berujung pada kerusakan gigi pada kucing Anda, itu asli 100% ayam kampung. Tapi kalau tetap dilahap, siap-siap saja Anda mengalami phobia makan ayam kampung.
Persuasi dari saya adalah, mari berhati-hati dalam mengkonsumsi ayam kampung dan jangan sekali-sekali memilih ayam kampung yang belum teruji kekampungannya! >:D hahaha
Gracias ;-)
Jumat, 04 Januari 2013
Filosofi Cream
Tahun baru. Eh sekarang beneran tahun 2013 ya? masih bisa liat bintang ga nih? masih bisa liat belatung loncat ga ya? atau masih bisa liat kucing saya minum lewat septic tank ga nih? *loooh haha Ssstttt rahasia publik nih, jangan disebar!
Perayaan tahun baru dari tahun ke tahun buat aku cuma mengalami kemajuan yang seucrit. Bahkan aku lupa, tahun 2011 kemarin aku ngerjain apa ketika orang-orang meniup Saxophone KW 6, bikin konser paduan suara gagal yang diadaptasi dari jaman primitif, sambil ngirim nuklir (yang ngabeledugnya pingin kaya bom Hiroshima dan Nagasaki tapi ga pernah kesampean) ke langit. Well, apa dulu para leluhur kita selalu merayakan tahun baru seperti sekarang?? (......) Tidak ada jawaban guys. Leluhur kita sedang tidur, ngooook... hik! ngoook.. hik!
Kembali ke perayaan. Satu hari sebelum perayaan bakar-bakaran (apa saja) yang bisa dibakar, aku mengalami satu kejadian yang menaaskan bagi siapa yang melihat, kemudian memutarnya, lalu menjilatnya, lalu mencelupkannya ke dalam segelas susu. Peristiwanya hitam, sehitam biskuit tadi. Alhasil karena orang yang (sebaiknya kita sebut Mr.X) itu tidak memberikan cream putih di dalamnya, aku harus nyari sendiri pemanis si biskuit itu biar enak dikunyah.
Dan disinilah aku berada. Rumah Pak Wayan.
Aku tiba-tiba ngeliat Luh De yang lagi bercengkrama sama Keenan... Setelah pulang dari sini akan ku ceritakan apa yang aku lihat pada Kugy...
Gubrak. marukana ieu film Perahu Kertas! -.-a
Ralat, aku ada di rumah guru les, untuk menjalankan acara bakar-bakar. Bakar arang, bakar batu bata, bakar angin, bakar perasaan *deuilah! Aku ga tega untuk bilang bahwa aku sama yang lain ngebakar ayam sama sosis, huaaa :'( episode berikutnya mungkin kita bakar orang.... orang utan maksudnya. Itupun kalau species mereka masih ada >:D huahaha...
Tapi tetep aja, tujuan utama aku untuk mencari cream putih ga kunjung ada. Kenapa sih nih?
Habis bakar-bakaran, ya harus ngapain lagi selain makan apa yang udah dibakar? Ayam dan sosis plus bonus nasi pun aku makan. Selanjutnya, perasaan yang kebakar juga aku lahap, masih lapar. Lalu... stop aja deh kayanya, kalau dilanjut nanti jadi pertunjukan kuda lumping dadakan, lupakan nasib arang, angin, sama batu bata yang udah dibakar juga. Mereka gosong, jadi ga bisa dimakan :p
Sekalipun aku kenyang, cream putih manis tetep belum aku makan.
Sekalipun aku ngiceupin mata, cream putih ga akan tiba-tiba ada depan hidung,
Sekalipun aku muntah, itu muntahan ga akan pernah jadi cream putih yang rasanya manis! Enek yang ada. Apa aku bilang, naas banget kan. Akhirnya, aku pilih pulang ke rumah, tepat pukul 10 malam.
Di rumah, aku.... aku... eu.... tuuuut....
(Itu bukan suara TV rusak, aku kentut barusan hahaha XD)
Aku mencoba menghibur diri karena mengalah pada nasib yang ga akan pernah nemuin si cream putih manis. Aku bikin 40 butir UU Resolusi TAP/DMP/No.2013, yang selanjutnya aku tempel di samping tempat tidur yang sedang bekerja, menunggangi kuda supaya baik jalannya, HEY! -,-
Hingga pukul 1 dini hari, aku pun mengistirahatkan mata yang sedari tadi ngiceup-ngiceup ga berhenti, berharap menemukan keajaiban keesokan harinya...
Dan tanggal 1 Januari pun telah datang! Aku nyari keajaiban apa yang terjadi. ya ampun! Keajaiban! Kertas resolusi yang aku bikin tadi malam, coplok... hosh... -_-a
Aku tempel lagi. Jahat banget yang tengil ngejatuhin Resolusi gue!
Siangnya, aku memusnahkan filosofi tadi malam dengan membeli Oreo, tapi tidak dengan cream putih, melainkan cream ungu hahaha :D
Kandungan cerita kali ini adalah, baru berusia 5 bulan. Eeeeh salah, maksudnya, kalaupun kita ga nemu si cream putih yang bikin kita ceria seperti dulu, carilah si cream ungu yang bikin kita merasa sedikit lebih baru. OK guys? ;-)
Hasta La Vista ^^/
Perayaan tahun baru dari tahun ke tahun buat aku cuma mengalami kemajuan yang seucrit. Bahkan aku lupa, tahun 2011 kemarin aku ngerjain apa ketika orang-orang meniup Saxophone KW 6, bikin konser paduan suara gagal yang diadaptasi dari jaman primitif, sambil ngirim nuklir (yang ngabeledugnya pingin kaya bom Hiroshima dan Nagasaki tapi ga pernah kesampean) ke langit. Well, apa dulu para leluhur kita selalu merayakan tahun baru seperti sekarang?? (......) Tidak ada jawaban guys. Leluhur kita sedang tidur, ngooook... hik! ngoook.. hik!
Kembali ke perayaan. Satu hari sebelum perayaan bakar-bakaran (apa saja) yang bisa dibakar, aku mengalami satu kejadian yang menaaskan bagi siapa yang melihat, kemudian memutarnya, lalu menjilatnya, lalu mencelupkannya ke dalam segelas susu. Peristiwanya hitam, sehitam biskuit tadi. Alhasil karena orang yang (sebaiknya kita sebut Mr.X) itu tidak memberikan cream putih di dalamnya, aku harus nyari sendiri pemanis si biskuit itu biar enak dikunyah.
Dan disinilah aku berada. Rumah Pak Wayan.
Aku tiba-tiba ngeliat Luh De yang lagi bercengkrama sama Keenan... Setelah pulang dari sini akan ku ceritakan apa yang aku lihat pada Kugy...
Gubrak. marukana ieu film Perahu Kertas! -.-a
Ralat, aku ada di rumah guru les, untuk menjalankan acara bakar-bakar. Bakar arang, bakar batu bata, bakar angin, bakar perasaan *deuilah! Aku ga tega untuk bilang bahwa aku sama yang lain ngebakar ayam sama sosis, huaaa :'( episode berikutnya mungkin kita bakar orang.... orang utan maksudnya. Itupun kalau species mereka masih ada >:D huahaha...
Tapi tetep aja, tujuan utama aku untuk mencari cream putih ga kunjung ada. Kenapa sih nih?
Habis bakar-bakaran, ya harus ngapain lagi selain makan apa yang udah dibakar? Ayam dan sosis plus bonus nasi pun aku makan. Selanjutnya, perasaan yang kebakar juga aku lahap, masih lapar. Lalu... stop aja deh kayanya, kalau dilanjut nanti jadi pertunjukan kuda lumping dadakan, lupakan nasib arang, angin, sama batu bata yang udah dibakar juga. Mereka gosong, jadi ga bisa dimakan :p
Sekalipun aku kenyang, cream putih manis tetep belum aku makan.
Sekalipun aku ngiceupin mata, cream putih ga akan tiba-tiba ada depan hidung,
Sekalipun aku muntah, itu muntahan ga akan pernah jadi cream putih yang rasanya manis! Enek yang ada. Apa aku bilang, naas banget kan. Akhirnya, aku pilih pulang ke rumah, tepat pukul 10 malam.
Di rumah, aku.... aku... eu.... tuuuut....
(Itu bukan suara TV rusak, aku kentut barusan hahaha XD)
Aku mencoba menghibur diri karena mengalah pada nasib yang ga akan pernah nemuin si cream putih manis. Aku bikin 40 butir UU Resolusi TAP/DMP/No.2013, yang selanjutnya aku tempel di samping tempat tidur yang sedang bekerja, menunggangi kuda supaya baik jalannya, HEY! -,-
Hingga pukul 1 dini hari, aku pun mengistirahatkan mata yang sedari tadi ngiceup-ngiceup ga berhenti, berharap menemukan keajaiban keesokan harinya...
Dan tanggal 1 Januari pun telah datang! Aku nyari keajaiban apa yang terjadi. ya ampun! Keajaiban! Kertas resolusi yang aku bikin tadi malam, coplok... hosh... -_-a
Aku tempel lagi. Jahat banget yang tengil ngejatuhin Resolusi gue!
Siangnya, aku memusnahkan filosofi tadi malam dengan membeli Oreo, tapi tidak dengan cream putih, melainkan cream ungu hahaha :D
Kandungan cerita kali ini adalah, baru berusia 5 bulan. Eeeeh salah, maksudnya, kalaupun kita ga nemu si cream putih yang bikin kita ceria seperti dulu, carilah si cream ungu yang bikin kita merasa sedikit lebih baru. OK guys? ;-)
Hasta La Vista ^^/
Kamis, 03 Januari 2013
Sang Waktu & Kanvasnya
Pukul 4, tak sengaja ku hampiri seorang pelukis..
Pukul 5, tak sengaja ku berikan kuas dan palet dengan manis..
Di malam tanpa bintang, masih tak sengaja, ku sodorkan cat magis..
Yang terakhir kanvas pun tak menangkis.
3 per 40 dasawarsa,
Pelukis itu berkarya..
dengan kuas, palet, dan cat di atas kanvas hitam.
3 per 32 windu, tepatnya.
Ya, dialah pelukis yang seolah serba tau..
Tau waktu.
Tau warna.
Tau hidup.
Kanvas, termenung bersirat senyum,
Pada siapa yang menyentuhkan kuas..
Menutupi hitam dengan yang primer, sekunder, bahkan tersier..
Hingga pelukis terdekap letih,
Hingga pelukis berhenti mengasih..
Sekali lagi kanvas itu tersenyum enigmatis.
Karena semua pelukisnya yang pergi,
Tak pernah tau siapa yang ditinggal pergi.
Pukul 5, tak sengaja ku berikan kuas dan palet dengan manis..
Di malam tanpa bintang, masih tak sengaja, ku sodorkan cat magis..
Yang terakhir kanvas pun tak menangkis.
3 per 40 dasawarsa,
Pelukis itu berkarya..
dengan kuas, palet, dan cat di atas kanvas hitam.
3 per 32 windu, tepatnya.
Ya, dialah pelukis yang seolah serba tau..
Tau waktu.
Tau warna.
Tau hidup.
Kanvas, termenung bersirat senyum,
Pada siapa yang menyentuhkan kuas..
Menutupi hitam dengan yang primer, sekunder, bahkan tersier..
Hingga pelukis terdekap letih,
Hingga pelukis berhenti mengasih..
Sekali lagi kanvas itu tersenyum enigmatis.
Karena semua pelukisnya yang pergi,
Tak pernah tau siapa yang ditinggal pergi.
Sabtu, 17 November 2012
Artikel 1 : Masalah Realita Remaja
Sebuah karya seni yang dibuat oleh seniman akan merasa sedih apabila terus mendapat kritikan, bahkan tak dapat dielak, pembuat karya seni pun lama kelamaan mundur bila terus mendapat penilaian yang buruk dari penikmat tanpa melihat sisi lain dari karya seni tersebut. Itu pula yang akan terjadi pada remaja. Remaja yang hanya mendapat ucapan atau kalimat-kalimat yang kurang berkenan hanya akan membuat remaja mengeluarkan pribadi negatif yang mereka miliki, terlebih jika didukung dengan tidak adanya pengembangan emosi yang tepat.
Beberapa penelitian sudah mengatakan bahwa masa remaja adalah masa dimana seseorang masih dalam proses pencarian jati diri, saat keadaan untuk mengekspresikan diri meluap-luap, merasa tak ingin dibatasi, bahkan oleh orang tua sekalipun. Tetapi hal mutlak tersebut terbantu oleh karakteristik tetap yang terbawa oleh mereka yang bervariasi. Membicarakan hal tentang karakteristik atau sifat, tidak sedikit dari kita yang mengatakan jika remaja sangat labil dalam mengendalikan emosinya. Apakah itu bisa disebut dengan sifat? Ya, itu sifat yang masih dalam tahap perkembangan, belum menjadi sifat permanen. Hal-hal yang sedikit menyimpang tersebut dapat dipecahkan dengan bantuan orang-orang yang mengerti dan menjadi ahli di bidang kejiwaan remaja, contohnya psikolog.
Sebagian orang berpikir keragaman sifat tersebut tidak cocok bahkan diharamkan dalam sebuah organisasi remaja. Tentu semua organisasi memiliki prinsip "Bhinneka Tunggal Ika" yang sedari dulu diusungkan, tetapi banyak pula orang yang sudah tidak memperdulikan apa arti sesungguhnya dari semboyan bangsa Indonesia tersebut, "Berbeda-beda tetapi tetap satu jua". Manusia yang masih dikategorikan sebagai remaja atau dewasa awal, tidak dapat direkomendasikan untuk menasehati satu sama lain secara utuh karena masalah metoda dan cara penyampaian saran. Terlepas dari metoda, sesama remaja hanya akan melihat presentase keburukan pada remaja yang masih berada di bawah umur mereka. Kritikan yang dianggap sebagai motivasi oleh kategori dewasa awal akan terus diguyurkan bila remaja dipandang belum siap untuk menghadapi kehidupan yang setingkat lebih tinggi dari dunia remajanya. Tetapi tanpa disadari, remaja tidak dapat diperlakukan sama karena karakter baik yang ada pada diri seseorang belum kuat dan dicuatkan. Sekali lagi, inilah fungsi orang tua dan fungsi pakar psikolog yang lebih memahami kesulitan-kesulitan remaja agar bisa diterima di masyarakat, bukan hanya di golongan remaja saja.
Jika manusia kategori dewasa awal hendak dijadikan sebagai sarana evaluasi remaja, haruslah tepat sasaran. Mengerti bahwa pembentukan sifat remaja tidak hanya muncul dari hati atau pikiran remaja itu sendiri, tetapi faktor lingkungan dan bimbingan orang tua yang memiliki pengaruh lebih tinggi harus ditanamkan dalam-dalam. Manusia kategori remaja dimanapun adalah aset, bahkan predikat aset itu sudah dimulai sejak lahir. Wawasan luas mengenai kejiwaan perlu diemban sedari dini agar remaja generasi yang menjadi tonggak masa depan bisa lebih matang dan dapat digolongkan ke dalam kelompok manusia berumur remaja namun berusia dewasa.
Beberapa penelitian sudah mengatakan bahwa masa remaja adalah masa dimana seseorang masih dalam proses pencarian jati diri, saat keadaan untuk mengekspresikan diri meluap-luap, merasa tak ingin dibatasi, bahkan oleh orang tua sekalipun. Tetapi hal mutlak tersebut terbantu oleh karakteristik tetap yang terbawa oleh mereka yang bervariasi. Membicarakan hal tentang karakteristik atau sifat, tidak sedikit dari kita yang mengatakan jika remaja sangat labil dalam mengendalikan emosinya. Apakah itu bisa disebut dengan sifat? Ya, itu sifat yang masih dalam tahap perkembangan, belum menjadi sifat permanen. Hal-hal yang sedikit menyimpang tersebut dapat dipecahkan dengan bantuan orang-orang yang mengerti dan menjadi ahli di bidang kejiwaan remaja, contohnya psikolog.
Sebagian orang berpikir keragaman sifat tersebut tidak cocok bahkan diharamkan dalam sebuah organisasi remaja. Tentu semua organisasi memiliki prinsip "Bhinneka Tunggal Ika" yang sedari dulu diusungkan, tetapi banyak pula orang yang sudah tidak memperdulikan apa arti sesungguhnya dari semboyan bangsa Indonesia tersebut, "Berbeda-beda tetapi tetap satu jua". Manusia yang masih dikategorikan sebagai remaja atau dewasa awal, tidak dapat direkomendasikan untuk menasehati satu sama lain secara utuh karena masalah metoda dan cara penyampaian saran. Terlepas dari metoda, sesama remaja hanya akan melihat presentase keburukan pada remaja yang masih berada di bawah umur mereka. Kritikan yang dianggap sebagai motivasi oleh kategori dewasa awal akan terus diguyurkan bila remaja dipandang belum siap untuk menghadapi kehidupan yang setingkat lebih tinggi dari dunia remajanya. Tetapi tanpa disadari, remaja tidak dapat diperlakukan sama karena karakter baik yang ada pada diri seseorang belum kuat dan dicuatkan. Sekali lagi, inilah fungsi orang tua dan fungsi pakar psikolog yang lebih memahami kesulitan-kesulitan remaja agar bisa diterima di masyarakat, bukan hanya di golongan remaja saja.
Jika manusia kategori dewasa awal hendak dijadikan sebagai sarana evaluasi remaja, haruslah tepat sasaran. Mengerti bahwa pembentukan sifat remaja tidak hanya muncul dari hati atau pikiran remaja itu sendiri, tetapi faktor lingkungan dan bimbingan orang tua yang memiliki pengaruh lebih tinggi harus ditanamkan dalam-dalam. Manusia kategori remaja dimanapun adalah aset, bahkan predikat aset itu sudah dimulai sejak lahir. Wawasan luas mengenai kejiwaan perlu diemban sedari dini agar remaja generasi yang menjadi tonggak masa depan bisa lebih matang dan dapat digolongkan ke dalam kelompok manusia berumur remaja namun berusia dewasa.
Minggu, 28 Oktober 2012
My October
Sekali lagi aku katakan, OKTOBER KU HITAAAAAAM. Terlebih pada tanggal 26, 27, 28...., n (entah sampai oktober tahun depan atau engga). Baru selesai aku mengahadapi hitamnya Oktoberku pada satu hal, eh satu hal yang tanpa diundang datang mengalir begitu saja. Maaf bila banyak unsur curhatan hati di postingan kali ini.
Dimulai saat aku menjadi pagar ayu di pernikahan sodara yang aku ceritakan di postingan sebelumnya. Saat itu aku mengantuk dan hanya tertidur di stan tamu, lupa memakai kacamata membuat mataku tidak bisa diajak bekerja sama. akhirnya aku mengirim sms pada seorang yang hanya satu, tidak dua, atau tiga, hanya satu! tapi entah kebelet atau kesambet jenglot, orang yang aku timpuki dengan sms curhatan hanya menjawab singkat, "hahahah sabar :)", iya aku selalu mencoba sabar sampai rambutku botak, sama halnya seperti aku menghitung hikmah-hikmah yang ada pada setiap masalah yang aku jumpai, botak aku menghitung semuanya.
Sampai pada sore harinya, aku mendapat sms rancu yang benar-benar tidak bisa aku mengerti. isi sms aku samarkan. Yang pertama kali terlintas setelah selesai membaca sms kelam itu adalah...
Ha? bercanda nih anak. aku harus baca lagi....
Setelah membaca yang kedua kali...
Aduh gue bego atau telmi sih? ini topik smsnya apaaa?? perasaan aku ga bahas ini tadi. baca lagi deh...
Semakin banyak aku membaca sms itu, semakin cepat lah jangka waktu pembotakan kepala. Topik sms yang melenceng sesuai harapan. Isi sms yang berhasil membuatku berpikir sangat kritis, hingga hampir menuju koma. Dia terus berusaha meminta maaf dan mengakui apa yang salah sedari dulu. Kebohongan fatal, besar, dan telah menumpuk menjadi tumpukan saus tartar siap banjur. Dan terjadilah, tanggal 26 Oktober, saus tartar yang dia tabung berhasil membanjiri hampir seluruh akal sehatnya. Berapa kali sms yang aku kirim untuk menenangkan dia, menjelaskan betapa berharganya pengakuan dia, betapa aku mengerti bagaimana perasaan dia yang ternyata hidupnya sama sepertiku, penuh fantasi. Tapi, Oktober yang dia miliki lebih hitam dari yang aku punya, pekat, hingga cahaya yang aku tawarkan belum mampu masuk ke dunianya.
Tidak apa-apa, tidak apa-apa sayang...
Aku jadi teringat pertanyaanku dulu.
Tuhan, apa maksud dari-Mu membawa pria dalam kehidupanku, begitupun sebaliknya?
Yang aku tau, suatu saat aku akan mengatahui apa misiku sebenarnya sehingga bisa masuk ke dalam hidupnya, yang bahkan baru aku kenal dekat kurang lebih 5 hari.
Dan mungkin tibalah saatnya, Tuhan membuka apa yang menjadi misiku. entah apa yang mengetuk pintu orang ini, sehingga dia mau mengakui rahasia terbesarnya di bulan yang sudah ku anggap sakral ini.
aku yakin, ini memang karena ilham-Mu sudah datang pada hatinya :)
Terjawab sudah pertanyaanku, namun menimbulkan pertanyaan yang lainnya.
...Tuhan... Apakah kini Kau akan mengeluarkan aku dari hidupnya?...
Dimulai saat aku menjadi pagar ayu di pernikahan sodara yang aku ceritakan di postingan sebelumnya. Saat itu aku mengantuk dan hanya tertidur di stan tamu, lupa memakai kacamata membuat mataku tidak bisa diajak bekerja sama. akhirnya aku mengirim sms pada seorang yang hanya satu, tidak dua, atau tiga, hanya satu! tapi entah kebelet atau kesambet jenglot, orang yang aku timpuki dengan sms curhatan hanya menjawab singkat, "hahahah sabar :)", iya aku selalu mencoba sabar sampai rambutku botak, sama halnya seperti aku menghitung hikmah-hikmah yang ada pada setiap masalah yang aku jumpai, botak aku menghitung semuanya.
Sampai pada sore harinya, aku mendapat sms rancu yang benar-benar tidak bisa aku mengerti. isi sms aku samarkan. Yang pertama kali terlintas setelah selesai membaca sms kelam itu adalah...
Ha? bercanda nih anak. aku harus baca lagi....
Setelah membaca yang kedua kali...
Aduh gue bego atau telmi sih? ini topik smsnya apaaa?? perasaan aku ga bahas ini tadi. baca lagi deh...
Semakin banyak aku membaca sms itu, semakin cepat lah jangka waktu pembotakan kepala. Topik sms yang melenceng sesuai harapan. Isi sms yang berhasil membuatku berpikir sangat kritis, hingga hampir menuju koma. Dia terus berusaha meminta maaf dan mengakui apa yang salah sedari dulu. Kebohongan fatal, besar, dan telah menumpuk menjadi tumpukan saus tartar siap banjur. Dan terjadilah, tanggal 26 Oktober, saus tartar yang dia tabung berhasil membanjiri hampir seluruh akal sehatnya. Berapa kali sms yang aku kirim untuk menenangkan dia, menjelaskan betapa berharganya pengakuan dia, betapa aku mengerti bagaimana perasaan dia yang ternyata hidupnya sama sepertiku, penuh fantasi. Tapi, Oktober yang dia miliki lebih hitam dari yang aku punya, pekat, hingga cahaya yang aku tawarkan belum mampu masuk ke dunianya.
Tidak apa-apa, tidak apa-apa sayang...
Aku jadi teringat pertanyaanku dulu.
Tuhan, apa maksud dari-Mu membawa pria dalam kehidupanku, begitupun sebaliknya?
Yang aku tau, suatu saat aku akan mengatahui apa misiku sebenarnya sehingga bisa masuk ke dalam hidupnya, yang bahkan baru aku kenal dekat kurang lebih 5 hari.
Dan mungkin tibalah saatnya, Tuhan membuka apa yang menjadi misiku. entah apa yang mengetuk pintu orang ini, sehingga dia mau mengakui rahasia terbesarnya di bulan yang sudah ku anggap sakral ini.
aku yakin, ini memang karena ilham-Mu sudah datang pada hatinya :)
Terjawab sudah pertanyaanku, namun menimbulkan pertanyaan yang lainnya.
...Tuhan... Apakah kini Kau akan mengeluarkan aku dari hidupnya?...
Sakral itu pernikahan
Ini terjadi di bulan Oktober. Menyebabkan Oktober mingggu akhir menjadi kelam bagiku uouooooo~, hitaaaam, Oktoberku hitaaam~ *pletuk!
Kenapa Oktober ini bisa menjadi sangat kelam? Satu hal yang pasti, itu karena berlangsungnya pernikahan sodara yang bertepatan dengan hari sekolahku. Bukan bukan, itu alasan kedua deng. Ya sudah biar aku utarakan apa yang menjadi alasan primernya!
Setelah asyik mendengarkan pa Ujang bercerita tentang konser musik yang akan dilancarkan di suatu sekolah, intuisi musik ku langsung mengirimkan impuls “ayo dev, dataaaaang...” ke otak kanan, sekalipun pelaksanaannya bertepatan dengan jadwal les, dan akan digelar hingga larut malam, aku tak peduli. Yang penting nonton konser, duduk manis sebelah Pa Ujang, komentar sana-sini, ngucapin selamat tanggal 24 (?), pulang, tidur, dan mimpi indah. Senangnya hati saat ibunda mengijinkan aku untuk menghadiri acara tersebut. Tapi naasnya... batang singkong invisible itu selalu jago nusuk, jleb! Aku disadarkan oleh ibunda bahwa Hari Rabu kami harus pergi ke desa Loskulalet di Pangalengan untuk mengahadiri pernikahan sodara kami pada esok harinya. Ibarat larutan dalam reaksi kimia, kenyataan ini bersifat 〖~OH〗^- yang berarti memiliki sifat basa atau pahit yang tidak terdefinisi (--,a) langsung eneg.
Dari sisi yang lain, saat itu aku sedang semangat sekali belajar dan PDKT sama pelajaran eksak. Barangkali inilah yang bisa disebut dengan semangat 45 karena rasanya seperti kerasukan semangat pahlawan angkatan ’45. Tapi apalah yang terjadi? Semangat juang ’45 yang baru mencuat beberapa titik ini langsung dihapus begitu saja dengan datangnya zona titik nadir semangat juang ’95. Alhasil dari reaksi semangat ’95 ini adalah... kesal. Semangatku langsung terkoyak, habis termakan si jabang bayi yang bahkan jabangnya belum dibuat (?)
Saking kesalnya karena merasa terpaksa, akupun curhat pada Pa Ujang mengenai kekesalanku. Apa yang dia katakan sangat singkat namun ada benarnya juga.
“Sabaar :) nikmatin aja :)”
Lalu aku melanjutkan curhat, bahwa aku kesal kuadrat. Bukan karena aku tidak suka datang kesana ataupun tidak ingin bersilaturahmi, tapi udangan yang datang dirasa kurang tepat. Apalagi ini pernikahan, event besar. Kalau aku memilih tidak hadir dan mengusungkan egoistisme, aku akan dicap tidak sopan dan tidak tau cara bersodara yang baik. Setelah 140 karakter di sms aku habiskan untuk Pa Ujang, balasan yang didapat sama singkatnya.
“Ga ada silaturahmi yang sia-sia :)”
Beuh. OK, aku ngalah deh... aku telan bulat-bulat semua orang yang tidak paham kebencianku dihadapkan pada situasi dimana munculnya dilema akut (bukan orangnya deng). Sementara itu, Ibu malah memberi intruksi padaku untuk segera menyiapkan baju ketika aku sedang membaca buku kimia, bab Sel Volta, karena akan menginap disana selama 3 hari 2 malam. Tambah rungsing lah moodku. Teringat pada semua tugas yang masih belum ku lunasi. PERSPEKTIF, OH PERSPEKTIF.... haruskah aku membawa penggaris 60 cm, alat tulis, dan karton ke sana untuk melanjutkan tugas perspektif? (-,-)
Pada akhirnya, aku hanya bisa menggapai kesimpulan payah, bahwa mungkin inilah sisi sakral dari pernikahan milik sodaraku. Sebelum resepsi pernikahan digelar pun, kesakralan sudah sangat kental terasa, ibarat susu full cream berlogo bendera yang full kentalnya benar-benar full, tanpa larutan encer sedikitpun. Tetapi lewat kisah ini aku jadi menerawang, tentang kesakralan dalam pernikahanku sendiri suatu saat nanti. Akankah pernikahanku membuat orang juga berada di kondisi yang dilema seperti yang dirasakan olehku? Semoga TIDAK. Aku ingin berita pernikahanku benar-benar membawa berkah dan menjadi berita paling membahagiakan abad 21 bagi semua orang. CAM kan! XD
Yang jelas, untuk saudaraku, jikalau pernikahan kalian tidak seharmonis, seindah, serukun, dan tidak setara dengan pengorbanan yang aku berikan, akan aku bunuh kaliaaaaaan~! (-,-*) #justkidding.
...Selamat menempuh hidup baru, neng Dini dan Aa Budi...<3>
3>
Kenapa Oktober ini bisa menjadi sangat kelam? Satu hal yang pasti, itu karena berlangsungnya pernikahan sodara yang bertepatan dengan hari sekolahku. Bukan bukan, itu alasan kedua deng. Ya sudah biar aku utarakan apa yang menjadi alasan primernya!
Setelah asyik mendengarkan pa Ujang bercerita tentang konser musik yang akan dilancarkan di suatu sekolah, intuisi musik ku langsung mengirimkan impuls “ayo dev, dataaaaang...” ke otak kanan, sekalipun pelaksanaannya bertepatan dengan jadwal les, dan akan digelar hingga larut malam, aku tak peduli. Yang penting nonton konser, duduk manis sebelah Pa Ujang, komentar sana-sini, ngucapin selamat tanggal 24 (?), pulang, tidur, dan mimpi indah. Senangnya hati saat ibunda mengijinkan aku untuk menghadiri acara tersebut. Tapi naasnya... batang singkong invisible itu selalu jago nusuk, jleb! Aku disadarkan oleh ibunda bahwa Hari Rabu kami harus pergi ke desa Loskulalet di Pangalengan untuk mengahadiri pernikahan sodara kami pada esok harinya. Ibarat larutan dalam reaksi kimia, kenyataan ini bersifat 〖~OH〗^- yang berarti memiliki sifat basa atau pahit yang tidak terdefinisi (--,a) langsung eneg.
Dari sisi yang lain, saat itu aku sedang semangat sekali belajar dan PDKT sama pelajaran eksak. Barangkali inilah yang bisa disebut dengan semangat 45 karena rasanya seperti kerasukan semangat pahlawan angkatan ’45. Tapi apalah yang terjadi? Semangat juang ’45 yang baru mencuat beberapa titik ini langsung dihapus begitu saja dengan datangnya zona titik nadir semangat juang ’95. Alhasil dari reaksi semangat ’95 ini adalah... kesal. Semangatku langsung terkoyak, habis termakan si jabang bayi yang bahkan jabangnya belum dibuat (?)
Saking kesalnya karena merasa terpaksa, akupun curhat pada Pa Ujang mengenai kekesalanku. Apa yang dia katakan sangat singkat namun ada benarnya juga.
“Sabaar :) nikmatin aja :)”
Lalu aku melanjutkan curhat, bahwa aku kesal kuadrat. Bukan karena aku tidak suka datang kesana ataupun tidak ingin bersilaturahmi, tapi udangan yang datang dirasa kurang tepat. Apalagi ini pernikahan, event besar. Kalau aku memilih tidak hadir dan mengusungkan egoistisme, aku akan dicap tidak sopan dan tidak tau cara bersodara yang baik. Setelah 140 karakter di sms aku habiskan untuk Pa Ujang, balasan yang didapat sama singkatnya.
“Ga ada silaturahmi yang sia-sia :)”
Beuh. OK, aku ngalah deh... aku telan bulat-bulat semua orang yang tidak paham kebencianku dihadapkan pada situasi dimana munculnya dilema akut (bukan orangnya deng). Sementara itu, Ibu malah memberi intruksi padaku untuk segera menyiapkan baju ketika aku sedang membaca buku kimia, bab Sel Volta, karena akan menginap disana selama 3 hari 2 malam. Tambah rungsing lah moodku. Teringat pada semua tugas yang masih belum ku lunasi. PERSPEKTIF, OH PERSPEKTIF.... haruskah aku membawa penggaris 60 cm, alat tulis, dan karton ke sana untuk melanjutkan tugas perspektif? (-,-)
Pada akhirnya, aku hanya bisa menggapai kesimpulan payah, bahwa mungkin inilah sisi sakral dari pernikahan milik sodaraku. Sebelum resepsi pernikahan digelar pun, kesakralan sudah sangat kental terasa, ibarat susu full cream berlogo bendera yang full kentalnya benar-benar full, tanpa larutan encer sedikitpun. Tetapi lewat kisah ini aku jadi menerawang, tentang kesakralan dalam pernikahanku sendiri suatu saat nanti. Akankah pernikahanku membuat orang juga berada di kondisi yang dilema seperti yang dirasakan olehku? Semoga TIDAK. Aku ingin berita pernikahanku benar-benar membawa berkah dan menjadi berita paling membahagiakan abad 21 bagi semua orang. CAM kan! XD
Yang jelas, untuk saudaraku, jikalau pernikahan kalian tidak seharmonis, seindah, serukun, dan tidak setara dengan pengorbanan yang aku berikan, akan aku bunuh kaliaaaaaan~! (-,-*) #justkidding.
...Selamat menempuh hidup baru, neng Dini dan Aa Budi...<3>
3>
Langganan:
Postingan (Atom)