Tahun baru. Eh sekarang beneran tahun 2013 ya? masih bisa liat bintang ga nih? masih bisa liat belatung loncat ga ya? atau masih bisa liat kucing saya minum lewat septic tank ga nih? *loooh haha Ssstttt rahasia publik nih, jangan disebar!
Perayaan tahun baru dari tahun ke tahun buat aku cuma mengalami kemajuan yang seucrit. Bahkan aku lupa, tahun 2011 kemarin aku ngerjain apa ketika orang-orang meniup Saxophone KW 6, bikin konser paduan suara gagal yang diadaptasi dari jaman primitif, sambil ngirim nuklir (yang ngabeledugnya pingin kaya bom Hiroshima dan Nagasaki tapi ga pernah kesampean) ke langit. Well, apa dulu para leluhur kita selalu merayakan tahun baru seperti sekarang?? (......) Tidak ada jawaban guys. Leluhur kita sedang tidur, ngooook... hik! ngoook.. hik!
Kembali ke perayaan. Satu hari sebelum perayaan bakar-bakaran (apa saja) yang bisa dibakar, aku mengalami satu kejadian yang menaaskan bagi siapa yang melihat, kemudian memutarnya, lalu menjilatnya, lalu mencelupkannya ke dalam segelas susu. Peristiwanya hitam, sehitam biskuit tadi. Alhasil karena orang yang (sebaiknya kita sebut Mr.X) itu tidak memberikan cream putih di dalamnya, aku harus nyari sendiri pemanis si biskuit itu biar enak dikunyah.
Dan disinilah aku berada. Rumah Pak Wayan.
Aku tiba-tiba ngeliat Luh De yang lagi bercengkrama sama Keenan... Setelah pulang dari sini akan ku ceritakan apa yang aku lihat pada Kugy...
Gubrak. marukana ieu film Perahu Kertas! -.-a
Ralat, aku ada di rumah guru les, untuk menjalankan acara bakar-bakar. Bakar arang, bakar batu bata, bakar angin, bakar perasaan *deuilah! Aku ga tega untuk bilang bahwa aku sama yang lain ngebakar ayam sama sosis, huaaa :'( episode berikutnya mungkin kita bakar orang.... orang utan maksudnya. Itupun kalau species mereka masih ada >:D huahaha...
Tapi tetep aja, tujuan utama aku untuk mencari cream putih ga kunjung ada. Kenapa sih nih?
Habis bakar-bakaran, ya harus ngapain lagi selain makan apa yang udah dibakar? Ayam dan sosis plus bonus nasi pun aku makan. Selanjutnya, perasaan yang kebakar juga aku lahap, masih lapar. Lalu... stop aja deh kayanya, kalau dilanjut nanti jadi pertunjukan kuda lumping dadakan, lupakan nasib arang, angin, sama batu bata yang udah dibakar juga. Mereka gosong, jadi ga bisa dimakan :p
Sekalipun aku kenyang, cream putih manis tetep belum aku makan.
Sekalipun aku ngiceupin mata, cream putih ga akan tiba-tiba ada depan hidung,
Sekalipun aku muntah, itu muntahan ga akan pernah jadi cream putih yang rasanya manis! Enek yang ada. Apa aku bilang, naas banget kan. Akhirnya, aku pilih pulang ke rumah, tepat pukul 10 malam.
Di rumah, aku.... aku... eu.... tuuuut....
(Itu bukan suara TV rusak, aku kentut barusan hahaha XD)
Aku mencoba menghibur diri karena mengalah pada nasib yang ga akan pernah nemuin si cream putih manis. Aku bikin 40 butir UU Resolusi TAP/DMP/No.2013, yang selanjutnya aku tempel di samping tempat tidur yang sedang bekerja, menunggangi kuda supaya baik jalannya, HEY! -,-
Hingga pukul 1 dini hari, aku pun mengistirahatkan mata yang sedari tadi ngiceup-ngiceup ga berhenti, berharap menemukan keajaiban keesokan harinya...
Dan tanggal 1 Januari pun telah datang! Aku nyari keajaiban apa yang terjadi. ya ampun! Keajaiban! Kertas resolusi yang aku bikin tadi malam, coplok... hosh... -_-a
Aku tempel lagi. Jahat banget yang tengil ngejatuhin Resolusi gue!
Siangnya, aku memusnahkan filosofi tadi malam dengan membeli Oreo, tapi tidak dengan cream putih, melainkan cream ungu hahaha :D
Kandungan cerita kali ini adalah, baru berusia 5 bulan. Eeeeh salah, maksudnya, kalaupun kita ga nemu si cream putih yang bikin kita ceria seperti dulu, carilah si cream ungu yang bikin kita merasa sedikit lebih baru. OK guys? ;-)
Hasta La Vista ^^/
Melangkah hingga menuju tak terdefinisi ~ dan mencoba memaknai hidup untuk menuju hal fana yang diindahkan oleh-Nya.
Jumat, 04 Januari 2013
Kamis, 03 Januari 2013
Sang Waktu & Kanvasnya
Pukul 4, tak sengaja ku hampiri seorang pelukis..
Pukul 5, tak sengaja ku berikan kuas dan palet dengan manis..
Di malam tanpa bintang, masih tak sengaja, ku sodorkan cat magis..
Yang terakhir kanvas pun tak menangkis.
3 per 40 dasawarsa,
Pelukis itu berkarya..
dengan kuas, palet, dan cat di atas kanvas hitam.
3 per 32 windu, tepatnya.
Ya, dialah pelukis yang seolah serba tau..
Tau waktu.
Tau warna.
Tau hidup.
Kanvas, termenung bersirat senyum,
Pada siapa yang menyentuhkan kuas..
Menutupi hitam dengan yang primer, sekunder, bahkan tersier..
Hingga pelukis terdekap letih,
Hingga pelukis berhenti mengasih..
Sekali lagi kanvas itu tersenyum enigmatis.
Karena semua pelukisnya yang pergi,
Tak pernah tau siapa yang ditinggal pergi.
Pukul 5, tak sengaja ku berikan kuas dan palet dengan manis..
Di malam tanpa bintang, masih tak sengaja, ku sodorkan cat magis..
Yang terakhir kanvas pun tak menangkis.
3 per 40 dasawarsa,
Pelukis itu berkarya..
dengan kuas, palet, dan cat di atas kanvas hitam.
3 per 32 windu, tepatnya.
Ya, dialah pelukis yang seolah serba tau..
Tau waktu.
Tau warna.
Tau hidup.
Kanvas, termenung bersirat senyum,
Pada siapa yang menyentuhkan kuas..
Menutupi hitam dengan yang primer, sekunder, bahkan tersier..
Hingga pelukis terdekap letih,
Hingga pelukis berhenti mengasih..
Sekali lagi kanvas itu tersenyum enigmatis.
Karena semua pelukisnya yang pergi,
Tak pernah tau siapa yang ditinggal pergi.
Sabtu, 17 November 2012
Artikel 1 : Masalah Realita Remaja
Sebuah karya seni yang dibuat oleh seniman akan merasa sedih apabila terus mendapat kritikan, bahkan tak dapat dielak, pembuat karya seni pun lama kelamaan mundur bila terus mendapat penilaian yang buruk dari penikmat tanpa melihat sisi lain dari karya seni tersebut. Itu pula yang akan terjadi pada remaja. Remaja yang hanya mendapat ucapan atau kalimat-kalimat yang kurang berkenan hanya akan membuat remaja mengeluarkan pribadi negatif yang mereka miliki, terlebih jika didukung dengan tidak adanya pengembangan emosi yang tepat.
Beberapa penelitian sudah mengatakan bahwa masa remaja adalah masa dimana seseorang masih dalam proses pencarian jati diri, saat keadaan untuk mengekspresikan diri meluap-luap, merasa tak ingin dibatasi, bahkan oleh orang tua sekalipun. Tetapi hal mutlak tersebut terbantu oleh karakteristik tetap yang terbawa oleh mereka yang bervariasi. Membicarakan hal tentang karakteristik atau sifat, tidak sedikit dari kita yang mengatakan jika remaja sangat labil dalam mengendalikan emosinya. Apakah itu bisa disebut dengan sifat? Ya, itu sifat yang masih dalam tahap perkembangan, belum menjadi sifat permanen. Hal-hal yang sedikit menyimpang tersebut dapat dipecahkan dengan bantuan orang-orang yang mengerti dan menjadi ahli di bidang kejiwaan remaja, contohnya psikolog.
Sebagian orang berpikir keragaman sifat tersebut tidak cocok bahkan diharamkan dalam sebuah organisasi remaja. Tentu semua organisasi memiliki prinsip "Bhinneka Tunggal Ika" yang sedari dulu diusungkan, tetapi banyak pula orang yang sudah tidak memperdulikan apa arti sesungguhnya dari semboyan bangsa Indonesia tersebut, "Berbeda-beda tetapi tetap satu jua". Manusia yang masih dikategorikan sebagai remaja atau dewasa awal, tidak dapat direkomendasikan untuk menasehati satu sama lain secara utuh karena masalah metoda dan cara penyampaian saran. Terlepas dari metoda, sesama remaja hanya akan melihat presentase keburukan pada remaja yang masih berada di bawah umur mereka. Kritikan yang dianggap sebagai motivasi oleh kategori dewasa awal akan terus diguyurkan bila remaja dipandang belum siap untuk menghadapi kehidupan yang setingkat lebih tinggi dari dunia remajanya. Tetapi tanpa disadari, remaja tidak dapat diperlakukan sama karena karakter baik yang ada pada diri seseorang belum kuat dan dicuatkan. Sekali lagi, inilah fungsi orang tua dan fungsi pakar psikolog yang lebih memahami kesulitan-kesulitan remaja agar bisa diterima di masyarakat, bukan hanya di golongan remaja saja.
Jika manusia kategori dewasa awal hendak dijadikan sebagai sarana evaluasi remaja, haruslah tepat sasaran. Mengerti bahwa pembentukan sifat remaja tidak hanya muncul dari hati atau pikiran remaja itu sendiri, tetapi faktor lingkungan dan bimbingan orang tua yang memiliki pengaruh lebih tinggi harus ditanamkan dalam-dalam. Manusia kategori remaja dimanapun adalah aset, bahkan predikat aset itu sudah dimulai sejak lahir. Wawasan luas mengenai kejiwaan perlu diemban sedari dini agar remaja generasi yang menjadi tonggak masa depan bisa lebih matang dan dapat digolongkan ke dalam kelompok manusia berumur remaja namun berusia dewasa.
Beberapa penelitian sudah mengatakan bahwa masa remaja adalah masa dimana seseorang masih dalam proses pencarian jati diri, saat keadaan untuk mengekspresikan diri meluap-luap, merasa tak ingin dibatasi, bahkan oleh orang tua sekalipun. Tetapi hal mutlak tersebut terbantu oleh karakteristik tetap yang terbawa oleh mereka yang bervariasi. Membicarakan hal tentang karakteristik atau sifat, tidak sedikit dari kita yang mengatakan jika remaja sangat labil dalam mengendalikan emosinya. Apakah itu bisa disebut dengan sifat? Ya, itu sifat yang masih dalam tahap perkembangan, belum menjadi sifat permanen. Hal-hal yang sedikit menyimpang tersebut dapat dipecahkan dengan bantuan orang-orang yang mengerti dan menjadi ahli di bidang kejiwaan remaja, contohnya psikolog.
Sebagian orang berpikir keragaman sifat tersebut tidak cocok bahkan diharamkan dalam sebuah organisasi remaja. Tentu semua organisasi memiliki prinsip "Bhinneka Tunggal Ika" yang sedari dulu diusungkan, tetapi banyak pula orang yang sudah tidak memperdulikan apa arti sesungguhnya dari semboyan bangsa Indonesia tersebut, "Berbeda-beda tetapi tetap satu jua". Manusia yang masih dikategorikan sebagai remaja atau dewasa awal, tidak dapat direkomendasikan untuk menasehati satu sama lain secara utuh karena masalah metoda dan cara penyampaian saran. Terlepas dari metoda, sesama remaja hanya akan melihat presentase keburukan pada remaja yang masih berada di bawah umur mereka. Kritikan yang dianggap sebagai motivasi oleh kategori dewasa awal akan terus diguyurkan bila remaja dipandang belum siap untuk menghadapi kehidupan yang setingkat lebih tinggi dari dunia remajanya. Tetapi tanpa disadari, remaja tidak dapat diperlakukan sama karena karakter baik yang ada pada diri seseorang belum kuat dan dicuatkan. Sekali lagi, inilah fungsi orang tua dan fungsi pakar psikolog yang lebih memahami kesulitan-kesulitan remaja agar bisa diterima di masyarakat, bukan hanya di golongan remaja saja.
Jika manusia kategori dewasa awal hendak dijadikan sebagai sarana evaluasi remaja, haruslah tepat sasaran. Mengerti bahwa pembentukan sifat remaja tidak hanya muncul dari hati atau pikiran remaja itu sendiri, tetapi faktor lingkungan dan bimbingan orang tua yang memiliki pengaruh lebih tinggi harus ditanamkan dalam-dalam. Manusia kategori remaja dimanapun adalah aset, bahkan predikat aset itu sudah dimulai sejak lahir. Wawasan luas mengenai kejiwaan perlu diemban sedari dini agar remaja generasi yang menjadi tonggak masa depan bisa lebih matang dan dapat digolongkan ke dalam kelompok manusia berumur remaja namun berusia dewasa.
Minggu, 28 Oktober 2012
My October
Sekali lagi aku katakan, OKTOBER KU HITAAAAAAM. Terlebih pada tanggal 26, 27, 28...., n (entah sampai oktober tahun depan atau engga). Baru selesai aku mengahadapi hitamnya Oktoberku pada satu hal, eh satu hal yang tanpa diundang datang mengalir begitu saja. Maaf bila banyak unsur curhatan hati di postingan kali ini.
Dimulai saat aku menjadi pagar ayu di pernikahan sodara yang aku ceritakan di postingan sebelumnya. Saat itu aku mengantuk dan hanya tertidur di stan tamu, lupa memakai kacamata membuat mataku tidak bisa diajak bekerja sama. akhirnya aku mengirim sms pada seorang yang hanya satu, tidak dua, atau tiga, hanya satu! tapi entah kebelet atau kesambet jenglot, orang yang aku timpuki dengan sms curhatan hanya menjawab singkat, "hahahah sabar :)", iya aku selalu mencoba sabar sampai rambutku botak, sama halnya seperti aku menghitung hikmah-hikmah yang ada pada setiap masalah yang aku jumpai, botak aku menghitung semuanya.
Sampai pada sore harinya, aku mendapat sms rancu yang benar-benar tidak bisa aku mengerti. isi sms aku samarkan. Yang pertama kali terlintas setelah selesai membaca sms kelam itu adalah...
Ha? bercanda nih anak. aku harus baca lagi....
Setelah membaca yang kedua kali...
Aduh gue bego atau telmi sih? ini topik smsnya apaaa?? perasaan aku ga bahas ini tadi. baca lagi deh...
Semakin banyak aku membaca sms itu, semakin cepat lah jangka waktu pembotakan kepala. Topik sms yang melenceng sesuai harapan. Isi sms yang berhasil membuatku berpikir sangat kritis, hingga hampir menuju koma. Dia terus berusaha meminta maaf dan mengakui apa yang salah sedari dulu. Kebohongan fatal, besar, dan telah menumpuk menjadi tumpukan saus tartar siap banjur. Dan terjadilah, tanggal 26 Oktober, saus tartar yang dia tabung berhasil membanjiri hampir seluruh akal sehatnya. Berapa kali sms yang aku kirim untuk menenangkan dia, menjelaskan betapa berharganya pengakuan dia, betapa aku mengerti bagaimana perasaan dia yang ternyata hidupnya sama sepertiku, penuh fantasi. Tapi, Oktober yang dia miliki lebih hitam dari yang aku punya, pekat, hingga cahaya yang aku tawarkan belum mampu masuk ke dunianya.
Tidak apa-apa, tidak apa-apa sayang...
Aku jadi teringat pertanyaanku dulu.
Tuhan, apa maksud dari-Mu membawa pria dalam kehidupanku, begitupun sebaliknya?
Yang aku tau, suatu saat aku akan mengatahui apa misiku sebenarnya sehingga bisa masuk ke dalam hidupnya, yang bahkan baru aku kenal dekat kurang lebih 5 hari.
Dan mungkin tibalah saatnya, Tuhan membuka apa yang menjadi misiku. entah apa yang mengetuk pintu orang ini, sehingga dia mau mengakui rahasia terbesarnya di bulan yang sudah ku anggap sakral ini.
aku yakin, ini memang karena ilham-Mu sudah datang pada hatinya :)
Terjawab sudah pertanyaanku, namun menimbulkan pertanyaan yang lainnya.
...Tuhan... Apakah kini Kau akan mengeluarkan aku dari hidupnya?...
Dimulai saat aku menjadi pagar ayu di pernikahan sodara yang aku ceritakan di postingan sebelumnya. Saat itu aku mengantuk dan hanya tertidur di stan tamu, lupa memakai kacamata membuat mataku tidak bisa diajak bekerja sama. akhirnya aku mengirim sms pada seorang yang hanya satu, tidak dua, atau tiga, hanya satu! tapi entah kebelet atau kesambet jenglot, orang yang aku timpuki dengan sms curhatan hanya menjawab singkat, "hahahah sabar :)", iya aku selalu mencoba sabar sampai rambutku botak, sama halnya seperti aku menghitung hikmah-hikmah yang ada pada setiap masalah yang aku jumpai, botak aku menghitung semuanya.
Sampai pada sore harinya, aku mendapat sms rancu yang benar-benar tidak bisa aku mengerti. isi sms aku samarkan. Yang pertama kali terlintas setelah selesai membaca sms kelam itu adalah...
Ha? bercanda nih anak. aku harus baca lagi....
Setelah membaca yang kedua kali...
Aduh gue bego atau telmi sih? ini topik smsnya apaaa?? perasaan aku ga bahas ini tadi. baca lagi deh...
Semakin banyak aku membaca sms itu, semakin cepat lah jangka waktu pembotakan kepala. Topik sms yang melenceng sesuai harapan. Isi sms yang berhasil membuatku berpikir sangat kritis, hingga hampir menuju koma. Dia terus berusaha meminta maaf dan mengakui apa yang salah sedari dulu. Kebohongan fatal, besar, dan telah menumpuk menjadi tumpukan saus tartar siap banjur. Dan terjadilah, tanggal 26 Oktober, saus tartar yang dia tabung berhasil membanjiri hampir seluruh akal sehatnya. Berapa kali sms yang aku kirim untuk menenangkan dia, menjelaskan betapa berharganya pengakuan dia, betapa aku mengerti bagaimana perasaan dia yang ternyata hidupnya sama sepertiku, penuh fantasi. Tapi, Oktober yang dia miliki lebih hitam dari yang aku punya, pekat, hingga cahaya yang aku tawarkan belum mampu masuk ke dunianya.
Tidak apa-apa, tidak apa-apa sayang...
Aku jadi teringat pertanyaanku dulu.
Tuhan, apa maksud dari-Mu membawa pria dalam kehidupanku, begitupun sebaliknya?
Yang aku tau, suatu saat aku akan mengatahui apa misiku sebenarnya sehingga bisa masuk ke dalam hidupnya, yang bahkan baru aku kenal dekat kurang lebih 5 hari.
Dan mungkin tibalah saatnya, Tuhan membuka apa yang menjadi misiku. entah apa yang mengetuk pintu orang ini, sehingga dia mau mengakui rahasia terbesarnya di bulan yang sudah ku anggap sakral ini.
aku yakin, ini memang karena ilham-Mu sudah datang pada hatinya :)
Terjawab sudah pertanyaanku, namun menimbulkan pertanyaan yang lainnya.
...Tuhan... Apakah kini Kau akan mengeluarkan aku dari hidupnya?...
Sakral itu pernikahan
Ini terjadi di bulan Oktober. Menyebabkan Oktober mingggu akhir menjadi kelam bagiku uouooooo~, hitaaaam, Oktoberku hitaaam~ *pletuk!
Kenapa Oktober ini bisa menjadi sangat kelam? Satu hal yang pasti, itu karena berlangsungnya pernikahan sodara yang bertepatan dengan hari sekolahku. Bukan bukan, itu alasan kedua deng. Ya sudah biar aku utarakan apa yang menjadi alasan primernya!
Setelah asyik mendengarkan pa Ujang bercerita tentang konser musik yang akan dilancarkan di suatu sekolah, intuisi musik ku langsung mengirimkan impuls “ayo dev, dataaaaang...” ke otak kanan, sekalipun pelaksanaannya bertepatan dengan jadwal les, dan akan digelar hingga larut malam, aku tak peduli. Yang penting nonton konser, duduk manis sebelah Pa Ujang, komentar sana-sini, ngucapin selamat tanggal 24 (?), pulang, tidur, dan mimpi indah. Senangnya hati saat ibunda mengijinkan aku untuk menghadiri acara tersebut. Tapi naasnya... batang singkong invisible itu selalu jago nusuk, jleb! Aku disadarkan oleh ibunda bahwa Hari Rabu kami harus pergi ke desa Loskulalet di Pangalengan untuk mengahadiri pernikahan sodara kami pada esok harinya. Ibarat larutan dalam reaksi kimia, kenyataan ini bersifat 〖~OH〗^- yang berarti memiliki sifat basa atau pahit yang tidak terdefinisi (--,a) langsung eneg.
Dari sisi yang lain, saat itu aku sedang semangat sekali belajar dan PDKT sama pelajaran eksak. Barangkali inilah yang bisa disebut dengan semangat 45 karena rasanya seperti kerasukan semangat pahlawan angkatan ’45. Tapi apalah yang terjadi? Semangat juang ’45 yang baru mencuat beberapa titik ini langsung dihapus begitu saja dengan datangnya zona titik nadir semangat juang ’95. Alhasil dari reaksi semangat ’95 ini adalah... kesal. Semangatku langsung terkoyak, habis termakan si jabang bayi yang bahkan jabangnya belum dibuat (?)
Saking kesalnya karena merasa terpaksa, akupun curhat pada Pa Ujang mengenai kekesalanku. Apa yang dia katakan sangat singkat namun ada benarnya juga.
“Sabaar :) nikmatin aja :)”
Lalu aku melanjutkan curhat, bahwa aku kesal kuadrat. Bukan karena aku tidak suka datang kesana ataupun tidak ingin bersilaturahmi, tapi udangan yang datang dirasa kurang tepat. Apalagi ini pernikahan, event besar. Kalau aku memilih tidak hadir dan mengusungkan egoistisme, aku akan dicap tidak sopan dan tidak tau cara bersodara yang baik. Setelah 140 karakter di sms aku habiskan untuk Pa Ujang, balasan yang didapat sama singkatnya.
“Ga ada silaturahmi yang sia-sia :)”
Beuh. OK, aku ngalah deh... aku telan bulat-bulat semua orang yang tidak paham kebencianku dihadapkan pada situasi dimana munculnya dilema akut (bukan orangnya deng). Sementara itu, Ibu malah memberi intruksi padaku untuk segera menyiapkan baju ketika aku sedang membaca buku kimia, bab Sel Volta, karena akan menginap disana selama 3 hari 2 malam. Tambah rungsing lah moodku. Teringat pada semua tugas yang masih belum ku lunasi. PERSPEKTIF, OH PERSPEKTIF.... haruskah aku membawa penggaris 60 cm, alat tulis, dan karton ke sana untuk melanjutkan tugas perspektif? (-,-)
Pada akhirnya, aku hanya bisa menggapai kesimpulan payah, bahwa mungkin inilah sisi sakral dari pernikahan milik sodaraku. Sebelum resepsi pernikahan digelar pun, kesakralan sudah sangat kental terasa, ibarat susu full cream berlogo bendera yang full kentalnya benar-benar full, tanpa larutan encer sedikitpun. Tetapi lewat kisah ini aku jadi menerawang, tentang kesakralan dalam pernikahanku sendiri suatu saat nanti. Akankah pernikahanku membuat orang juga berada di kondisi yang dilema seperti yang dirasakan olehku? Semoga TIDAK. Aku ingin berita pernikahanku benar-benar membawa berkah dan menjadi berita paling membahagiakan abad 21 bagi semua orang. CAM kan! XD
Yang jelas, untuk saudaraku, jikalau pernikahan kalian tidak seharmonis, seindah, serukun, dan tidak setara dengan pengorbanan yang aku berikan, akan aku bunuh kaliaaaaaan~! (-,-*) #justkidding.
...Selamat menempuh hidup baru, neng Dini dan Aa Budi...<3>
3>
Kenapa Oktober ini bisa menjadi sangat kelam? Satu hal yang pasti, itu karena berlangsungnya pernikahan sodara yang bertepatan dengan hari sekolahku. Bukan bukan, itu alasan kedua deng. Ya sudah biar aku utarakan apa yang menjadi alasan primernya!
Setelah asyik mendengarkan pa Ujang bercerita tentang konser musik yang akan dilancarkan di suatu sekolah, intuisi musik ku langsung mengirimkan impuls “ayo dev, dataaaaang...” ke otak kanan, sekalipun pelaksanaannya bertepatan dengan jadwal les, dan akan digelar hingga larut malam, aku tak peduli. Yang penting nonton konser, duduk manis sebelah Pa Ujang, komentar sana-sini, ngucapin selamat tanggal 24 (?), pulang, tidur, dan mimpi indah. Senangnya hati saat ibunda mengijinkan aku untuk menghadiri acara tersebut. Tapi naasnya... batang singkong invisible itu selalu jago nusuk, jleb! Aku disadarkan oleh ibunda bahwa Hari Rabu kami harus pergi ke desa Loskulalet di Pangalengan untuk mengahadiri pernikahan sodara kami pada esok harinya. Ibarat larutan dalam reaksi kimia, kenyataan ini bersifat 〖~OH〗^- yang berarti memiliki sifat basa atau pahit yang tidak terdefinisi (--,a) langsung eneg.
Dari sisi yang lain, saat itu aku sedang semangat sekali belajar dan PDKT sama pelajaran eksak. Barangkali inilah yang bisa disebut dengan semangat 45 karena rasanya seperti kerasukan semangat pahlawan angkatan ’45. Tapi apalah yang terjadi? Semangat juang ’45 yang baru mencuat beberapa titik ini langsung dihapus begitu saja dengan datangnya zona titik nadir semangat juang ’95. Alhasil dari reaksi semangat ’95 ini adalah... kesal. Semangatku langsung terkoyak, habis termakan si jabang bayi yang bahkan jabangnya belum dibuat (?)
Saking kesalnya karena merasa terpaksa, akupun curhat pada Pa Ujang mengenai kekesalanku. Apa yang dia katakan sangat singkat namun ada benarnya juga.
“Sabaar :) nikmatin aja :)”
Lalu aku melanjutkan curhat, bahwa aku kesal kuadrat. Bukan karena aku tidak suka datang kesana ataupun tidak ingin bersilaturahmi, tapi udangan yang datang dirasa kurang tepat. Apalagi ini pernikahan, event besar. Kalau aku memilih tidak hadir dan mengusungkan egoistisme, aku akan dicap tidak sopan dan tidak tau cara bersodara yang baik. Setelah 140 karakter di sms aku habiskan untuk Pa Ujang, balasan yang didapat sama singkatnya.
“Ga ada silaturahmi yang sia-sia :)”
Beuh. OK, aku ngalah deh... aku telan bulat-bulat semua orang yang tidak paham kebencianku dihadapkan pada situasi dimana munculnya dilema akut (bukan orangnya deng). Sementara itu, Ibu malah memberi intruksi padaku untuk segera menyiapkan baju ketika aku sedang membaca buku kimia, bab Sel Volta, karena akan menginap disana selama 3 hari 2 malam. Tambah rungsing lah moodku. Teringat pada semua tugas yang masih belum ku lunasi. PERSPEKTIF, OH PERSPEKTIF.... haruskah aku membawa penggaris 60 cm, alat tulis, dan karton ke sana untuk melanjutkan tugas perspektif? (-,-)
Pada akhirnya, aku hanya bisa menggapai kesimpulan payah, bahwa mungkin inilah sisi sakral dari pernikahan milik sodaraku. Sebelum resepsi pernikahan digelar pun, kesakralan sudah sangat kental terasa, ibarat susu full cream berlogo bendera yang full kentalnya benar-benar full, tanpa larutan encer sedikitpun. Tetapi lewat kisah ini aku jadi menerawang, tentang kesakralan dalam pernikahanku sendiri suatu saat nanti. Akankah pernikahanku membuat orang juga berada di kondisi yang dilema seperti yang dirasakan olehku? Semoga TIDAK. Aku ingin berita pernikahanku benar-benar membawa berkah dan menjadi berita paling membahagiakan abad 21 bagi semua orang. CAM kan! XD
Yang jelas, untuk saudaraku, jikalau pernikahan kalian tidak seharmonis, seindah, serukun, dan tidak setara dengan pengorbanan yang aku berikan, akan aku bunuh kaliaaaaaan~! (-,-*) #justkidding.
...Selamat menempuh hidup baru, neng Dini dan Aa Budi...<3>
3>
Sabtu, 24 Maret 2012
60th days.
I didn't know why I took this picture on Thursday, 22th of March.
Ow, that's because I felt the sky at that time looks very beautiful.
I thought that I wouldn't see that pattern anymore on next day.
But maybe, I just wanted to amuse my self.
Why?
You would go, hence I would lost so many time with you in ours 60th days.
But it doesn't matter so long as you came back here.
Hmm... Long journey to come home, I still day dreamed inside the common carrier.
I saw sky for the third times, then... One of my old wishes through my mind again.
I said you that I wanted to see the Aurora, didn't I?
I wasn't kidding when I said about that, I really wanted to go to south pole or north pole of Earth.
Just to see the Aurora, the most beautiful light..
the most colorful phenomenon..
I learned about Aurora at that time, about their meaning, their characteristics, their excess and their shortage, I adored them.
Night was coming, made me woke up from my dream.
I realized one thing..
I didn't need to bring my eyes to neither south pole nor north pole..
Do you know why?
Because I have had the Aurora's maker in my life.
Who painted all kind of color's life..
Who always drawn a different pattern of life in each time..
Who sketched dis-flat curve in my essence of life..
Thanks, for every steps which are chosen by you.
Thanks, for being my Aurora's maker.
Unlimited thanks for the only one, EFS :)
with love,
.DMP.
Want to know about Aurora?
KLIK! http://johannajessica.blogspot.com/2011/04/aurora.html
Ow, that's because I felt the sky at that time looks very beautiful.
I thought that I wouldn't see that pattern anymore on next day.
But maybe, I just wanted to amuse my self.
Why?
You would go, hence I would lost so many time with you in ours 60th days.
But it doesn't matter so long as you came back here.
Hmm... Long journey to come home, I still day dreamed inside the common carrier.
I saw sky for the third times, then... One of my old wishes through my mind again.
I said you that I wanted to see the Aurora, didn't I?
I wasn't kidding when I said about that, I really wanted to go to south pole or north pole of Earth.
Just to see the Aurora, the most beautiful light..
the most colorful phenomenon..
I learned about Aurora at that time, about their meaning, their characteristics, their excess and their shortage, I adored them.
Night was coming, made me woke up from my dream.
I realized one thing..
I didn't need to bring my eyes to neither south pole nor north pole..
Do you know why?
Because I have had the Aurora's maker in my life.
Who painted all kind of color's life..
Who always drawn a different pattern of life in each time..
Who sketched dis-flat curve in my essence of life..
Thanks, for every steps which are chosen by you.
Thanks, for being my Aurora's maker.
Unlimited thanks for the only one, EFS :)
with love,
.DMP.
Want to know about Aurora?
KLIK! http://johannajessica.blogspot.com/2011/04/aurora.html
Sabtu, 10 Maret 2012
1st sweetest day with...
Kemarin tercatat dalam buku sejarah hidup aku sebuah perang, tapi sekarang tercatat sebuah sweet memory :) Pa Uz berhasil naburin bubuk-bubuk gula pasir dalam alur hidup aku hari ini sampai2 orang yang pingin ngelahap hari ini tuh yang dirasain kebanyakan manis :D tapi biar ga giung *apaantuhgiung??-,-, Pa Uz dengan sangat cakap menutup hari ini dengan sepotong coklat pahit, walaupun pahit tapi yang namanya coklat aku tetep suka haha :D #cukup pembukaannya. Enjoy to read aja ya :bd
"Eehh aku udah di depan Hayumart", begitulah isi pesan singkat yang dikirim oleh Pa Uz.
Dengan gaya alis terangkat dikit, mata melotot, mulut nganga kaya liat cacing bugil, aku langsung ngesms temen aku yang mau ikutan main ke BIIIIP~ karena Pa Uz datang 2 jam lebih awal. aku terharuuuu karena pengargaannya terhadap waktu dari detik ke detik (ga tau deng, kayanya sih ada modus lain kenapa dia datang pagi banget haha). Hmmm coba kita next... next... teruuuuus next....... yaaa terus di depan masih ada belokan baaang, next.... nah di sini bang. Cargo: Rp.30.000,- #bletak!
Turun dari angkot, aku dan teh Ilda perlahan jalan ke depan Hayumart buat mastiin keberadaan dari duo Raja yang baru nge-release single baru dengan judul "Teman Tapi Hombreng" itu. Setelah ngeliat mereka, aku reflek cekikikan, kayanya ketoel penghuni "tak terlihat" yang lagi mangkal di situuuu (engga ding). Dan dengan keinginan luhur supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka kita pun cepet2 nyari angkot buat mencampakan si petugas Hayumart yang ketitipan tasnya Pa Uz.
Sebelum sampai di tempat tujuan, kita mampir dulu ke sebuah sekolah karena panggilan alam dari Pa Uz, tepatnya SMP yang menjadi almamaternya Pa Uz. Dan kamu tau apa? Begitu aku masuk gerbang dan ngeliat tamannya, eeeeeeh..... ga sengaja aku jatuh maaaan! Jatuh cinta sama tamannya gitu maksudnya hehehe #geje. Karena merasa aku udah dikenalin sama sekolahnya Pa Uz, aku jadi pingin ngexplore tempat itu. kita pun jalan ke lantai 1 sampai lantai 3, membuka kembali lembaran lama tentang sekolah yang dulu pernah deket banget sama Pa Uz, flash back tentang ukiran dari pensil yang membentuk huruf N ♥ E (N untuk Najmaaaaaaa, oh bukan ya? :D) di pojok tangga menuju perpus . Karena takut aku ga bisa ke sana lagi, Pa Uz dan aku pingin buat ukiran baru, ukiran D ♥ E dan E ♥ D yang hasilnya harus permanen. Ajaibnya, Pa Uz nemuin pulpen yang kayanya udah ga kesentuh selama beberapa dekade. akhirnya rencana pun dijalankan dengan sangat baik (harusnya ukirannya di foto tadi! T_T)
Petualangan belum berakhir, kita berempat melesat ke BIIIIP~ dengan lari-lari kecil gaya Shafa dan Marwah karena ga nemuin angkot biru, ngelewatin pohon2 yang diameternya hampir 1 meter, nyebrang sana nyebrang sini. (aku dapet kertas promosi dari Pa Uz yang dirobek2 jadi bentuk hati :p) hahaha. Ga kerasa ternyata kita udah nyampe di mall tersebut. Tujuan kita yang paling utama adalah memfungsikan kerja mata secara penuh (nonton nonton), jadi kita mendatangi si Bioskop buat survey penayangan film, dan..... Jleb... bioskopnya masih tiduuuuuuur! dasar Bioskop kebluk! >_
Kita pun jadinya kelayaban kemana2, ke timezone, ke toko buku, ke Blitz anime. Karena mulai gusar nungguin bioskop yang ga bangun2, aku sama Pa Uz coba main wahana yang ada di timezone, salah satunya wahana DDR, wahana yang siap diinjak2 harga dirinya sama sepatu kita hahaha >:D #ketawajahat. Sepuasnya nginjek harga diri wahana DDR, kita melesat ke Bioskop, singkat cerita karena ga ada film yang dapat memicu adrenalin, kita milih film yang judulnya HUGO. Nonton lah kita di teater 1, tapi naasnya Teteh Ilda ketiduran di pundaknya Aa Ial karena ngantuk plus nonton film yang alurnya rada ngeblur hahahahaa ampuuuun teh, damai ^^v
"Apa?"
"Hmm? engga..."
Ga taunya ditengah2 pemutaran film...
Tenonononeng nononeng.... Tenonononeng nononeng....
Ringtone HP nya Pa Uz bunyi, lupa ga di silent boooo! paniklah Pa uz, aku juga panik dengan cara ngikik, tapi Pa Uz langsung bereaksi dgn cara niruin suara ular yang lagi ngelewat di kolong kursi.
"Sssssssuuuuttttt, jgn ketawaaa", bisik Pa Uz.
Aku masih ngikik, kali ini ngikik dengan bisu. Keadaan pun mulai tenang, sampai akhirnya anak2 ingusan di belakang bioskop pada ikutan ngikik2 ga jelas, ga tau ngikik karena apa tapi itu sedikit annoying (gw lempar juga idung mereka pake popcorn lama2).
Pukul 15.15, film HUGO tamat dengan happy ending, ga ada yang terlalu menguras emosi karena kematian tokoh utama, perceraian antar suami istri, ataupun suara tembakan2 shootgun yang pelurunya nembus kepala kaya nembus buah apel. Kita pun keluar dari teater, awalnya mau pergi ke CCF sebentar, tapi karena perut aku demo besar2ran , akhirnya aku minta makan ke Pa Uz.
"Pa Uuuuzzzz.... beri aku makan Pa Uuuuzzzz......", gaya zombie kena ayan.
Kita pun makan di KFC yang notabene selalu penuh pengunjung. Dan suguhan coklat pahit mulai dilancarkan oleh Pa Uz. Selesai makan, Pa Uz tiba-tiba ngomong...
"Duh, perasaan aku kenapa jadi ga enak gini..", ucap Pa Uz, galau.
Bah? aku pun bingung harus berperan kaya gimana biar fungsi aku pas di keadaan seperti ini. Akhirnya aku cuma nanya, "Ga enak kenapa?", dan dijawab juga dengan kalimat singkat menggantung, "Ga tau...", sesekali aku coba hibur dan memotivasi Pa Uz, tapi percuma kayanya. Aku pun milih diem, menghibur Pa Uz dalam hati.
Pulangnya, aku tambah dieeeeem. Di angkot cuma suara Teteh Ilda dan Aa Ial aja yang membahana. Aku sama Pa Uz sibuk masing2. aku ngelamun, dia smsan. Aku maling muka, dia maling kepala tetangga (looooh salaaaah). Aku ngomong sama dia, dia ngomong sama Aa Ial. Weeeit? Iyaaaa beneraaaaaan, sepanjang jalan dia galau tingkat dewaaaaaaa dgn cara ngoceh ke Aa ial karena sesuatu yang berhubungan dengan orang satu atap. Aku yang lihat fenomena ini pusing, nyoba membaca situasi tapi nihil karena situasi abstrak, ga bisa gw baca karena ga ada tulisan apa2 di jidat Pa Uz, hehehe. Aku ajak ngomong ke sini, dia ngomong ke sanaaaaa, nyambung sih sekali2, tapi itu ga bikin suasana hati Pa uz membaik. Terus? aku SKAK, ga bisa ngelakuin apa2. Haruskah gw transgender dulu jadi cowo supaya bisa bantu Pa Uz kaya A Ial?? uoooooo ambiguuuuu....... :O
Ocehan Pa Uz sudah sampai pada klimaks karena kemacetan yang sangat membunuh ketenangan secara perlahan. Dengan tekad kuat, Pa Uz dan A Ial pun turun dari angkot sambil kelabakan.
"Dadah....", penutup terakhir.
Kerennya, sehabis ngambil kembalian dari supir, Pa Uz dan A ial langsung lari kaya lagi audisi lomba marathon, melesat nembus angiiiiiiin, dan mereka berlalu..........
Selepas mereka pergi, aku kembali merenungi sejenak. Dieeeem, terbawa pikiran sendiri (teteh Ilda maaf pisan aku ga ngajak ngobrol sama sekaliiiii haha :D), coklat pahit pemberian Pa uz sudah aku telan bulat2 :). Tapi perlu diketahui, kejadian hari ini sama sekali ga bikin aku jadi illfeel atau ga suka, ga sama sekali. Tapi aku jadi makin penasaran, sebenarnya bagaimanakah kehidupan dan dunia Pa Uz yang menurutku sulit untuk ditembus itu? Banyak tanya, sedikit jawaban. Ternyata, masih banyak potongan2 puzzle tentang kamu yang harus aku kumpulin supaya aku tau sejarah penuh dari seorang Pa Uzang :)
Tetap semangat, Idre Nazauf ;)
gula pasir tambah coklat pahit adalah kombinasi yang paling enak dalam hidup, thanks ♥
"Eehh aku udah di depan Hayumart", begitulah isi pesan singkat yang dikirim oleh Pa Uz.
Dengan gaya alis terangkat dikit, mata melotot, mulut nganga kaya liat cacing bugil, aku langsung ngesms temen aku yang mau ikutan main ke BIIIIP~ karena Pa Uz datang 2 jam lebih awal. aku terharuuuu karena pengargaannya terhadap waktu dari detik ke detik (ga tau deng, kayanya sih ada modus lain kenapa dia datang pagi banget haha). Hmmm coba kita next... next... teruuuuus next....... yaaa terus di depan masih ada belokan baaang, next.... nah di sini bang. Cargo: Rp.30.000,- #bletak!
Turun dari angkot, aku dan teh Ilda perlahan jalan ke depan Hayumart buat mastiin keberadaan dari duo Raja yang baru nge-release single baru dengan judul "Teman Tapi Hombreng" itu. Setelah ngeliat mereka, aku reflek cekikikan, kayanya ketoel penghuni "tak terlihat" yang lagi mangkal di situuuu (engga ding). Dan dengan keinginan luhur supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka kita pun cepet2 nyari angkot buat mencampakan si petugas Hayumart yang ketitipan tasnya Pa Uz.
Sebelum sampai di tempat tujuan, kita mampir dulu ke sebuah sekolah karena panggilan alam dari Pa Uz, tepatnya SMP yang menjadi almamaternya Pa Uz. Dan kamu tau apa? Begitu aku masuk gerbang dan ngeliat tamannya, eeeeeeh..... ga sengaja aku jatuh maaaan! Jatuh cinta sama tamannya gitu maksudnya hehehe #geje. Karena merasa aku udah dikenalin sama sekolahnya Pa Uz, aku jadi pingin ngexplore tempat itu. kita pun jalan ke lantai 1 sampai lantai 3, membuka kembali lembaran lama tentang sekolah yang dulu pernah deket banget sama Pa Uz, flash back tentang ukiran dari pensil yang membentuk huruf N ♥ E (N untuk Najmaaaaaaa, oh bukan ya? :D) di pojok tangga menuju perpus . Karena takut aku ga bisa ke sana lagi, Pa Uz dan aku pingin buat ukiran baru, ukiran D ♥ E dan E ♥ D yang hasilnya harus permanen. Ajaibnya, Pa Uz nemuin pulpen yang kayanya udah ga kesentuh selama beberapa dekade. akhirnya rencana pun dijalankan dengan sangat baik (harusnya ukirannya di foto tadi! T_T)
Petualangan belum berakhir, kita berempat melesat ke BIIIIP~ dengan lari-lari kecil gaya Shafa dan Marwah karena ga nemuin angkot biru, ngelewatin pohon2 yang diameternya hampir 1 meter, nyebrang sana nyebrang sini. (aku dapet kertas promosi dari Pa Uz yang dirobek2 jadi bentuk hati :p) hahaha. Ga kerasa ternyata kita udah nyampe di mall tersebut. Tujuan kita yang paling utama adalah memfungsikan kerja mata secara penuh (nonton nonton), jadi kita mendatangi si Bioskop buat survey penayangan film, dan..... Jleb... bioskopnya masih tiduuuuuuur! dasar Bioskop kebluk! >_
Kita pun jadinya kelayaban kemana2, ke timezone, ke toko buku, ke Blitz anime. Karena mulai gusar nungguin bioskop yang ga bangun2, aku sama Pa Uz coba main wahana yang ada di timezone, salah satunya wahana DDR, wahana yang siap diinjak2 harga dirinya sama sepatu kita hahaha >:D #ketawajahat. Sepuasnya nginjek harga diri wahana DDR, kita melesat ke Bioskop, singkat cerita karena ga ada film yang dapat memicu adrenalin, kita milih film yang judulnya HUGO. Nonton lah kita di teater 1, tapi naasnya Teteh Ilda ketiduran di pundaknya Aa Ial karena ngantuk plus nonton film yang alurnya rada ngeblur hahahahaa ampuuuun teh, damai ^^v
"Apa?"
"Hmm? engga..."
Ga taunya ditengah2 pemutaran film...
Tenonononeng nononeng.... Tenonononeng nononeng....
Ringtone HP nya Pa Uz bunyi, lupa ga di silent boooo! paniklah Pa uz, aku juga panik dengan cara ngikik, tapi Pa Uz langsung bereaksi dgn cara niruin suara ular yang lagi ngelewat di kolong kursi.
"Sssssssuuuuttttt, jgn ketawaaa", bisik Pa Uz.
Aku masih ngikik, kali ini ngikik dengan bisu. Keadaan pun mulai tenang, sampai akhirnya anak2 ingusan di belakang bioskop pada ikutan ngikik2 ga jelas, ga tau ngikik karena apa tapi itu sedikit annoying (gw lempar juga idung mereka pake popcorn lama2).
Pukul 15.15, film HUGO tamat dengan happy ending, ga ada yang terlalu menguras emosi karena kematian tokoh utama, perceraian antar suami istri, ataupun suara tembakan2 shootgun yang pelurunya nembus kepala kaya nembus buah apel. Kita pun keluar dari teater, awalnya mau pergi ke CCF sebentar, tapi karena perut aku demo besar2ran , akhirnya aku minta makan ke Pa Uz.
"Pa Uuuuzzzz.... beri aku makan Pa Uuuuzzzz......", gaya zombie kena ayan.
Kita pun makan di KFC yang notabene selalu penuh pengunjung. Dan suguhan coklat pahit mulai dilancarkan oleh Pa Uz. Selesai makan, Pa Uz tiba-tiba ngomong...
"Duh, perasaan aku kenapa jadi ga enak gini..", ucap Pa Uz, galau.
Bah? aku pun bingung harus berperan kaya gimana biar fungsi aku pas di keadaan seperti ini. Akhirnya aku cuma nanya, "Ga enak kenapa?", dan dijawab juga dengan kalimat singkat menggantung, "Ga tau...", sesekali aku coba hibur dan memotivasi Pa Uz, tapi percuma kayanya. Aku pun milih diem, menghibur Pa Uz dalam hati.
Pulangnya, aku tambah dieeeeem. Di angkot cuma suara Teteh Ilda dan Aa Ial aja yang membahana. Aku sama Pa Uz sibuk masing2. aku ngelamun, dia smsan. Aku maling muka, dia maling kepala tetangga (looooh salaaaah). Aku ngomong sama dia, dia ngomong sama Aa Ial. Weeeit? Iyaaaa beneraaaaaan, sepanjang jalan dia galau tingkat dewaaaaaaa dgn cara ngoceh ke Aa ial karena sesuatu yang berhubungan dengan orang satu atap. Aku yang lihat fenomena ini pusing, nyoba membaca situasi tapi nihil karena situasi abstrak, ga bisa gw baca karena ga ada tulisan apa2 di jidat Pa Uz, hehehe. Aku ajak ngomong ke sini, dia ngomong ke sanaaaaa, nyambung sih sekali2, tapi itu ga bikin suasana hati Pa uz membaik. Terus? aku SKAK, ga bisa ngelakuin apa2. Haruskah gw transgender dulu jadi cowo supaya bisa bantu Pa Uz kaya A Ial?? uoooooo ambiguuuuu....... :O
Ocehan Pa Uz sudah sampai pada klimaks karena kemacetan yang sangat membunuh ketenangan secara perlahan. Dengan tekad kuat, Pa Uz dan A Ial pun turun dari angkot sambil kelabakan.
"Dadah....", penutup terakhir.
Kerennya, sehabis ngambil kembalian dari supir, Pa Uz dan A ial langsung lari kaya lagi audisi lomba marathon, melesat nembus angiiiiiiin, dan mereka berlalu..........
Selepas mereka pergi, aku kembali merenungi sejenak. Dieeeem, terbawa pikiran sendiri (teteh Ilda maaf pisan aku ga ngajak ngobrol sama sekaliiiii haha :D), coklat pahit pemberian Pa uz sudah aku telan bulat2 :). Tapi perlu diketahui, kejadian hari ini sama sekali ga bikin aku jadi illfeel atau ga suka, ga sama sekali. Tapi aku jadi makin penasaran, sebenarnya bagaimanakah kehidupan dan dunia Pa Uz yang menurutku sulit untuk ditembus itu? Banyak tanya, sedikit jawaban. Ternyata, masih banyak potongan2 puzzle tentang kamu yang harus aku kumpulin supaya aku tau sejarah penuh dari seorang Pa Uzang :)
Tetap semangat, Idre Nazauf ;)
gula pasir tambah coklat pahit adalah kombinasi yang paling enak dalam hidup, thanks ♥
Langganan:
Postingan (Atom)
